Simpel-Simpel Saja
Dikirim oleh Administrator
pada 10:33:54 AM
Oleh Fauzi Rachmanto
Motivator Kewirausahaan.
Berapa di antara anda yang pernah mempunyai keinginan
memiliki perusahaan IT yang sukses? Saya duga cukup banyak. Saya
termasuk diantaranya. Apalagi sewaktu boom dot com pertengahan tahun 90
an dulu, hampir setiap anak kuliahan terinspirasi untuk menjadi seperti
Bo Peabody, founder Tripod.Com yang pada tahun 1997 sukses menjual
perusahaanya senilai $ 58 juta (hebatnya lagi Tripod waktu itu belum
pernah untung).
Namun kalau kita perhatikan, dari mungkin sekian juta orang di dunia
yang ingin memiliki perusahaan (berbasis) IT yang sukses, maka hasilnya
bisa sangat berbeda, misalnya: Pertama, ada yang tidak pernah memulai
membuat perusahaan IT sama sekali. Kedua, ada yang kemudian membuat
perusahaan IT, namun tidak berhasil, dan berhenti. Ketiga, ada yang
malah menekuni dan mengerjakan hal-hal lain. Dan setiap malam merenung,
kenapa saya tidak memiliki perusahaan IT yang sukses. Keempat, ada yang
betul-betul membangun perusahaan berbasis IT, sukses besar dan kaya
raya seperti Bill Gates (Microsoft), Jeff Bezos (Amazon), Larry Page
& Sergey Brin (Google), dsb.
Dari satu keinginan yang sama, yaitu membangun perusahaan IT yang
sukses. Ternyata hasilnya akhirnya bisa berbeda-beda. Mengapa?
Mark Joyner memberikan cara pandang menarik dalam bukunya yang sangat
luar biasa: "Simple-ology: The Simple Science of Getting What You
Want". Sederhana nya begini, menurut Joyner, kita seringkali tidak
berhasil mewujudkan apa yang kita inginkan karena mengabaikan hukum
pertama dari simple-ology, yaitu: "jarak terdekat dari dua titik adalah
sebuah garis lurus".
Dalam teori sungguh simple bukan? Namun dalam praktek, kenyataanya
memang kita sering melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan tujuan
utama yang ingin kita capai. Ibaratnya bukannya membuat garis lurus
yang tegas diantara dua titik, kita seringkali malah membuat garis
berbelok-belok, memutar kesana kemari tidak menentu.
Ketidak-sederhana-an ini yang seringkali akhirnya membuat kita lupa
tujuan kita sebenarnya.
Saya mempunyai teman yang sedang membangun usaha jasa konsultan.
Bersama tim mereka yang terdiri dari sejumlah pakar bergelar doktor,
master dengan sertifikasi professional yang berderet, saya nilai
usahanya cukup potensial. Apalagi knowledge yang dimiliki teman saya
tadi tergolong sangat dicari perusahaan-perusahaan besar dewasa ini.
Sayangnya usahanya hingga lebih dari satu tahun kurang berkembang.
Yang membuat saya heran, setiap saya bertemu dengan teman saya tadi,
topik pembicaraan yang dibicarakan selalu itu-itu saja: masalah ruangan
untuk kantor. Rupanya, bagi teman saya tadi, membangun perusahaan jasa
konsultan berarti memiliki ruangan kantor yang representatif dan nyaman
di lokasi strategis. Sehingga, selalu saja masalah ruangan kantor
menjadi "topic of the month" di perusahaan mereka. Mulai dari mencari
lokasi, memilih diantara berbagai alternative lokasi, kemudian masalah
renovasi, memilih furniture, warna cat yang sesuai corporate color,
dsb. Hal-hal yang menurut saya jauh dari relevan dengan upaya menjual
jasa mereka. Padahal kalau mau menjual jasa konsultasi menurut saya ya
straight to the point saja. Berjualanlah ke calon klien yang butuh dan
punya uang. Dapatkan kontraknya. Kerjakan projectnya. Kemudian tagih
uangnya. Mission accomplished. Simple.
Bagaimana dengan ruang kantor? Siapa yang butuh ruang kantor kalau
sebagian besar waktu kita habiskan di lokasi klien. Bagaimana dengan
alamat yang representative? Haloo … kemana saja?, apakah Anda belum
pernah mendengar "virtual office" yang siap disewa di lokasi-lokasi
terbaik di Jakarta? Bagaimana kalau mau meeting? Ini lebih mudah lagi,
percayalah, klien lebih senang meeting di kantornya. Wah jadi tidak
usah investasi bangunan, ruangan, peralatan kantor?. Lha kok enak? Ya
memang jadi konsultan itu enak, bayarannya gede lagi, hehehe.
Point nya adalah, dengan berpikir menurut "prinsip garis lurus"
tadi, hal-hal yang tidak secara langsung relevan dengan bagaimana
menghasilkan uang kita kesampingkan dulu. Meskipun contoh di atas
adalah usaha jasa konsultan, prinsip ini umum, sehingga Anda bisa
aplikasikan dalam model bisnis Anda sendiri.
Sederhanakan yang Sulit
Anda dapat menyederhanakan banyak hal, dengan mengacu pada 3 kesederhanaan (simplicity) berikut ini.
Simplicity in Purpose
Anda dapat meninjau kembali tujuan Anda. Jangan-jangan tujuan Anda
sendiri sudah njlimet. Analogi paling mudah adalah program komputer.
Setiap program komputer yang terinstal di komputer Anda ditulis dengan
tujuan tertentu. Misalnya, MS Word untuk word-processing, MS Excel
untuk spreadsheet, MS PowerPoint untuk membuat presentasi dan MS
Internet Explorer untuk membaca blog saya, (hehehe ... tentu boleh juga
kalau mau dipakai untuk sekedar browsing).
Setiap baris kode program-program tadi ditulis sesuai dengan tujuan
pembuatan program tadi. Bagaimana jika tujuan-tujuan tadi mencoba
ditumpuk bersama? Bisa dibayangkan penulisan programnya harus banyak
berkompromi dengan berbagai tujuan tadi, sehingga yang dihasilkan
adalah program yang tidak "lean" dan tidak efisien.
Simplicity in Method
Mungkin tujuan anda sebenarnya cukup sederhana. Pergi ke dari
Jakarta ke Bandung. Namun banyak cara menuju Bandung. Anda bisa
menggunakan mobil lewat jalan tol Cipularang, menggunakan kereta api
lewat stasiun Gambir, menggunakan pesawat terbang lewat Bandara
Soekarno-Hatta. Hmmm … karena sekarang sudah tidak ada flight Jakarta –
Bandung, maka Anda bisa gunakan flight Jakarta – Surabaya, dan Surabaya
– Bandung. Metoda mana yang paling simple? Anda pasti bisa menjawabnya.
Simplicity in Execution
Katakanlah tujuan anda sudah cukup sederhana. Metoda yang Anda pilih
juga adalah yang paling sederhana. Namun, masih ada satu jebakan lagi,
yaitu kerumitan dalam eksekusinya.
Bertahun-tahun yang lalu, saya (yang waktu itu masih berusia 20 tahun)
pernah menjadi seksi perlengkapan dalam sebuah acara di kampus. Kami
ingin membuat acara yang sederhana. Dengan panggung sederhana, dan
backdrop sederhana dengan sebuah tulisan yang sederhana. Jenis huruf
dan bahan pun sangat sederhana. Kami membuat huruf-huruf dari karton
yang digunting. Simple dan cepat sekali bikinnya. Yang tidak sederhana
ternyata adalah bagaimana melekatkan tulisan2 tadi di dinding belakang
panggung! Ternyata susah sekali. Saya bahkan masih melekatkan
huruf-huruf terakhir ketika tamu-tamu mulai berdatangan. Rasa malu nya
betul-betul tidak sederhana.
Mark Joyner masih memiliki 4 prinsip lagi dalam Simple-ology. Tapi yang
paling penting adalah "prinsip garis lurus" di atas. Lagipula tulisan
ini pun saya maksudkan untuk sederhana. Sehingga meskipun masih banyak
yang ingin saya sampaikan, terpaksa harus saya akhiri supaya tetap
sederhana. Ah, jangan berlama-lama membaca, silakan mencoba menerapkan
Simple-ology n (FR).
|