Banner
IKLAN CONTACT
Phone: +62 21 555 5555
Email: iklan@weekanews.com
ENTREPRENEUR TODAY
MAGAZINE Hari ini :

SMS IKLAN

Komputer
Dijual komputer bekas dengan harga sangat murah untuk usaha Warnet anda
Banner
Banner
News
Serius Antisipasi Krisis PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 23 December 2008 06:05
Kondisi tersebut ternyata mengusik entrepreneur yang tergabung di komunitas TDA Semarang. Awal bulan November 2008 latu anggota TDA Semarang mengadakan pertemuan sekaligus halal bihalal di Cafe Tingwe Semarang. Pertemuan sore itu, dihadiri lebih dua puluh anggota TDA Semarang baik baru maupun anggota lama.


Acara yang dimotori Izha diawali dengan saling memperkenalkan diri dan usaha yang sedang digeluti. Sebagian besar anggota yang hadir sudah memiliki usaha sendiri, meskipun masih ada yang sambil menjadi karyawan di perusahaan lain. "Dengan bergabung di TDA, kesadaran untuk memulai usaha semakin besar!" kata Zaky salah satu peserta.

Tito pemilik usaha susu kedelai juga tak kalah semangatnya menceritakan usaha yang pernah ditekuni, terutama usaha-usaha yang pernah gagal. "Kita juga bisa belajar dari kegagalan orang lain" kata Albert.

Sebagaimana topik pertemuan ini mengantisipasi krisis, setiap peserta yang hadir tentu ketar-ketir dengan krisis global yang tengah tedadi. Tetapi semua yang hadir tetap semangat dan memiliki keyakinan tetap bisa survive.

"Yang penting hati-hati saja bertransaksi!" tambah yang lain.

Krisis global bisa jadi akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Apalagi Indonesia yang tengah disibukkan dengan pemilihan Presiden tahun depan. Tapi, jika setiap orang sadar dan mengantisipasi sejak dini, bukan tidak mungkin krisis bisa cepat lewat dari negeri ini.

"Bagaimanapun UKM dan usaha mikro perlu mendapat perhatian ekstra. Karena, fakta krisis sepuluh tahun lalu, justru usaha kecil dan menengah yang selama ini kurang mendapat perhatian justru, lebih kuat terhadap badai krisis!" harapan semua peserta yang hadir.  - Albert -
 
Inkubator Bisnis Independent PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 23 December 2008 06:05
Mungkinkah Menjadi Alternatif Pembelajaran Bisnis

Banyak lembaga pembelajaran bisnis yang hanya memberikan solusi secara teorikal, seperti yang dilakukan kampus-kampus atau lembaga perguruan tinggi, tetapi minim praktek bisnis. Padahal diyakini, bisnis harus praktek. Meskipun di kampus sudah ada inkubator bisnis, namun masih banyak yang kurang memenuhi syarat seperti yang diharapkan.

Inkubator Bisnis Independent (IBI) yang digagas Christoper Andreas Lie dan teman-teman mencoba mewadahi berbagai keterbatasan yang dilakukan di kampus-kampus dan memberikan ruang yang lebih besar kepada para mahasiswa atau siapapun yang ingin belajar bisnis secara nyata.

Cara yang dilakukan Inkubator Bisnis Independent adalah mendirikan unit usaha mandiri yang didirikan untuk memfasilitasi mitra pemilik usaha (franchise/ business opportunity/ keagenan).

Tentu saja untuk mengefektifkan unit-unit bisnis ini dilakukan kerjasama dengan pemilik bisnis, sponsor, maupun para investor yang berminat.

Lantas bagaimana system kerja dan mekanisme bisnisnya?

Menurut Christopher Andreas Lie, penggagas IBI, peserta pembelajaran bisnis akan didata dan direkrut oleh IBI untuk diberikan pelatihan bisnis yang lebih intensif, bagaimana melaksanakan, memanage, serta mengembangkan bisnis yang akan digeluti oleh masing-masing peserta.

IBI akan mencarikan partner kepada pemilik bisnis, baik yang selama ini mengembangkan dengan system franchise atau peluang bisnis dengan mekanisme tertentu yang disepakati oleh kedua belah pihak.

“Sebagai mentor, mediator dan pengawas di sini IBI yang berfungsi,” ujar Andreas.
Bagi para investor, lanjut Andreas akan diberikan benefit sesuai dengan mekanisme dan kesepakatan yang akan dipaparkan dalam proposal setiap bisnis yang dikerjasamakan.

Syarat Ketat

Dalam pelaksanaannya, lanjut Andreas, IBI bertindak sebagai fasilitator dan pengendali unit usaha yang disediakan pemlik usaha dan menegosiasikan seluruh persyaratan kerjasama dengan pemilik usaha untuk selanjutnya melakukan seleksi terhadap calon peserta inkubator bisnis.

“Peserta yang lolos seleksi diwajibkan mengikuti pelatihan teknis usaha, pendampingan, dan persyaratan kerjasama lainnya. Untuk mendukung program ini, IBI juga mengundang media dan investor pribadi dengan kerjasama yang menguntungkan untuk menjamin kelangsungan program IBI ini,” ujar Andreas yang peduli terhadap terbukanya kesempatan kerja yang luas bagi para mahasiswa maupun pemuda di Indonesia ini.
Rencananya, program ini akan melibatkan 500 peserta, dengan jenis dan ragam usaha yang dapat diikuti para mahasiswa, masyarakat umum, ibu rumah tangga, karyawan, keluarga kecil yang mempunyai kemauan untuk memulai usaha mandiri, asal mengikuti persyaratan yang telah ditetapkan.

Andreas berharap ada dukungan yang memadai dari perusahaan besar dengan memberikan semacam dana sponsor kepada program ini, mengingat program ini akan memberikan dampak yang besar bagi perubahan kewirausahaan di Indonesia.
Peminat program ini dapat menghungi email ke This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it atau telepon 081398240939, 021-543-90068.
 
Banner
Banner

Business Consultant

  • The FTP Layer allows file operations (such as installing Extensions or updating the main configuration file) without having to make all the folders and files writable. This has been an issue on Lin...

    Read more...
Banner
Banner
Banner
Banner