Dikirim Oleh:
Administrator pada 31 Oktober 2008 10:26:35 AM (734 dibaca)
Mungkinkah Menjadi Alternatif Pembelajaran Bisnis
Banyak lembaga pembelajaran bisnis yang hanya memberikan solusi secara teorikal, seperti yang dilakukan kampus-kampus atau lembaga perguruan tinggi, tetapi minim praktek bisnis. Padahal diyakini, bisnis harus praktek. Meskipun di kampus sudah ada inkubator bisnis, namun masih banyak yang kurang memenuhi syarat seperti yang diharapkan.
Inkubator Bisnis Independent (IBI) yang digagas Christoper Andreas Lie dan teman-teman mencoba mewadahi berbagai keterbatasan yang dilakukan di kampus-kampus dan memberikan ruang yang lebih besar kepada para mahasiswa atau siapapun yang ingin belajar bisnis secara nyata.
Cara yang dilakukan Inkubator Bisnis Independent adalah mendirikan unit usaha mandiri yang didirikan untuk memfasilitasi mitra pemilik usaha (franchise/ business opportunity/ keagenan).
Tentu saja untuk mengefektifkan unit-unit bisnis ini dilakukan kerjasama dengan pemilik bisnis, sponsor, maupun para investor yang berminat.
Lantas bagaimana system kerja dan mekanisme bisnisnya?
Menurut Christopher Andreas Lie, penggagas IBI, peserta pembelajaran bisnis akan didata dan direkrut oleh IBI untuk diberikan pelatihan bisnis yang lebih intensif, bagaimana melaksanakan, memanage, serta mengembangkan bisnis yang akan digeluti oleh masing-masing peserta.
IBI akan mencarikan partner kepada pemilik bisnis, baik yang selama ini mengembangkan dengan system franchise atau peluang bisnis dengan mekanisme tertentu yang disepakati oleh kedua belah pihak.
“Sebagai mentor, mediator dan pengawas di sini IBI yang berfungsi,” ujar Andreas.
Bagi para investor, lanjut Andreas akan diberikan benefit sesuai dengan mekanisme dan kesepakatan yang akan dipaparkan dalam proposal setiap bisnis yang dikerjasamakan.
Syarat Ketat
Dalam pelaksanaannya, lanjut Andreas, IBI bertindak sebagai fasilitator dan pengendali unit usaha yang disediakan pemlik usaha dan menegosiasikan seluruh persyaratan kerjasama dengan pemilik usaha untuk selanjutnya melakukan seleksi terhadap calon peserta inkubator bisnis.
“Peserta yang lolos seleksi diwajibkan mengikuti pelatihan teknis usaha, pendampingan, dan persyaratan kerjasama lainnya. Untuk mendukung program ini, IBI juga mengundang media dan investor pribadi dengan kerjasama yang menguntungkan untuk menjamin kelangsungan program IBI ini,” ujar Andreas yang peduli terhadap terbukanya kesempatan kerja yang luas bagi para mahasiswa maupun pemuda di Indonesia ini.
Rencananya, program ini akan melibatkan 500 peserta, dengan jenis dan ragam usaha yang dapat diikuti para mahasiswa, masyarakat umum, ibu rumah tangga, karyawan, keluarga kecil yang mempunyai kemauan untuk memulai usaha mandiri, asal mengikuti persyaratan yang telah ditetapkan.
Andreas berharap ada dukungan yang memadai dari perusahaan besar dengan memberikan semacam dana sponsor kepada program ini, mengingat program ini akan memberikan dampak yang besar bagi perubahan kewirausahaan di Indonesia.
Peminat program ini dapat menghungi email ke inkubatorbisnis@yahoo.com atau telepon 081398240939, 021-543-90068.
Maaf, saya ingin memberi komentar mengenai program ini. Christopher Andreas Lie yang mengaku sebagai Direktur PT Mitra Graha Independent yang menjalankan bisnis Inkubator Bisnis Independent ini sudah banyak mengumpulkan uang dari beberapa investor hingga ratusan juta rupiah, namun ketika tanggal jatuh tempo yang ditetapkan, uang investor tidak dapat dikembalikan olehnya. Beliau juga mengaku bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi terkemuka di Jakarta, namun nyatanya perjanjian itu adalah fiktif karena tidak pernah dibuat sama sekali. Saya menyarankan bagi para investor atau siapaun yang ingin bergabung dengan program ini agar tidak mentransfer uang untuk alasan apapun karena uang anda sekalian tidak di jamin kembali. Bagi Administrator, saya menyarankan agar iklan ini tidak dimuat lagi karena sudah terbukti menyusahkan banyak orang.